Banyak yang bilang travelling itu seperti membaca buku, jika kita mengunjungi tempat yang sama atau membaca halaman yang sama, kita tidak akan tau halaman selanjutnya. Tapi saya menepis semua itu karena tidak bisa menolak ajakan teman untuk mengunjungi Kawah Ijen lagi. Padahal 2 minggu yang lalu saya sudah kesana bersama teman teman saya. Kali ini saya berangkat bersama 5 orang teman saya. Ferdie, Adibah, Hawari, Meme, dan Artani
Kawah ijen berada di puncak gunung Ijen yang memiliki ketinggian 2368mdpl
di wilayah Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi dan Kecamatan Klobang, Kabupaten Bondowoso.
Kawah Ijen merupakan objek wisata yang telah dikenal luas oleh para wisatawan domestik dan asing karena keindahan alamnya dan warna kawahnya yang berwarna Turqoise / Hijau dengan kabut dan asap belerang yang sangat mempesona.. Jangan heran, jika berlibur kesana banyak dijumpai wisatawan asing yang sangat banyak.
| Trekking menuju puncak Gunung Ijen |
Kita berangkat dari Surabaya pukul 3 sore dan kita berharap sampai sana bisa pukul 12 malam. Tapi sayangnya kita sampai sana pukul 1 pagi. Memang kalau mau kesini alangkah baiknya memulai pendakian mulai pukul 13.00 .
| Trekking menuju puncak Gunung Ijen |
Perjalanan dari tempat parkir menuju puncak memakan waktu sekitar 2-3 jam sehingga kita bisa melihat fenomena Blue Fire / Api biru yang muncul di tengah-tengah penambangan sulphur, dan hanya bisa dilihat pada malam hari hingga menjelang dini hari. Untuk mendekat menuju Blue Fire kita harus menuruni jurang terjal hingga menapai bibir kawah. Dan itu buka termasuk hal yang mudah. Mengingat jalannya yang terjal dan berbahaya, ditambah lagi aap belerang dan minim cahaya pada malam hari yang sangat mengganggu perjalanan menuju ke bibir kawah.
![]() |
| Blue fire di bibir kawah Sumber: http://andristour.com/ |
Karena fisik teman-teman yang belum seberapa kuat, Akhirnya kita sampai di puncak gunung ijen pukul 5 pagi. Kita memang tidak terlalu memaksa supaya tiba di puncak dengan cepat.Melihat trekking menuju Kawah Ijen lumayan menguras tenaga. Dengan jarak sekitar 3 km dan jalan yang menanjak terus membuat kita tertatih tatih dan memang harus beristirahat jika lelah. Keselamatan lah yang utama. Jika teman-teman saya kelelahan ya saya juga harus menunggunya untuk beristirahat. Apalagi inilah waktu pertama kali mereka naik gunung. Khususnya Adibah dan Meme. Sedih memang tidak bisa mengantar mereka melihat blue fire. Untung saja saya sudah pernah melihat blue fire waktu pertama kali kesini hehe
Menjelang pagi warna turqoise dari Kawah Ijen mulai terlihat. Pemandangan yang sangat indah untuk dilihat. Banyak sekali wisatawan asing yang rela jauh-jauh ke Indonesia hanya untuk melihat Kawah berwarna hijau tosca yang indah ini. Tidak mau membuang buang waktu, saya dan teman-teman langsung mengabadikan momen didalam jepretan lensa. Jika ingin hasil foto yang bagus, kita harus semakin mendekat ke bawah atau semakin mendekati bibir kawah, Jalanan yang terjal dan asap belerang yang mengganggu pernafasan menjadi halangan untuk mendapatkan foto bagus. Semua wisatawan sudah harus kembali ke atas lagi jika waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Karena asap belerang akan semakin ke atas jika semakin siang. Hal ini akan membuat kita sulit bernafas jika tidak segera pergi dan menuju kembali ke puncak.
![]() |
| Kawah Ijen yang idnah berwarna tosca di pagi hari |
| The boys Ferdie, Hawari, Artani |
| The Girls Saya, Adibah, Meme |
| Para penambang belerang yang hebat |
Bapak tersebut mengambil belerang lalu kemudian belerang tersebut dibentuk menjadi bentuk hewan yang lucu sepeti kura-kura, ikan dan lain lain. Kemudian mereka menjualnya ke wisatawan dengan harga 5 ribu rupiah. Belerang tersebut berfungsi sebagai sabun gatal-gatal. Dengan rasa iba saya dan Adibah membelinya. Semoga para penambang belerang ini dimudahkan dan dilancarkan rejekinya mengingat perjuangannya mencari nafkah sangat berat.
Setelah puas mengabadikan momen dan membeli oleh-oleh batu belerang. Akhirnya kami memutuskan untuk segera turun. Perjalanan turun tidak sesusah waktu naik, bahkan saya bisa lari waktu turun. Selain itu ketika turun mata kita dimajakan oleh hamparan gunung meranti dan gunung Raung yang bisa kita lihat. Semakin hilang rasa lelah ini.
| That morning at 2368 mdpl with Mt. Meranti as the background. |
Waktu naik yang ditempuh selama 3 jam bisa ditempuh hanya 1 jam waktu turun. Setelah sampai di pos kami segera makan. Warung Bu Ikah siap menyambut dengan Soto dan Indomienya yang sangat enak. Semuanya akan teraa enak jika kita menyantapnya waktu lapar hehehe. Selamat makan!



